Selasa, 10 September 2013


TUGAS INDIVIDU
RESUME
MATA KULIAH : DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN
Dosen pengampu : Arief  Sukino, S.Ag. M.Ag

Di susun
O
L
E
H


Nama : Susilo
Nim : 1091109750
Kelas : 2 A
Jurusan : Tarbiyah (PAI)




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONTIANAK
2010
DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN


A. Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

B. Perbedaan Antara Pendidikan dan Pengajaran

            Pendidikan berbeda dengan pengajaran. Di dalam pendidikan prosesnya tidak hanya sekedar pentransferan ilmu semata, namun ada proses penggalian potensi, peningkatan diri menuju kedewasaan mental serta bimbingan dari seorang guru. Sehingga bukan hanya ilmu yang didapat melainkan budi pekerti /akhlaknya menjadi lebih baik. Didalam pendidikan mencakup beberapa aspek yaitu:kompetisi, afeksi,kogensi dan psychmotor. Sedangkan dalam pengajaran hanya pentransferan ilmu saja sehingga tidak ada kewajiban seorang pengajar untuk memperbaiki akhlak peserta didik, sehingga apabila seseorang telah mendapat suatu ilmu maka tugas seorang guru telah selesai. Dalam pengajaran hanya ada 3 aspek yaitu: kompetensi, afeksi dan kogensi, sedagkan aspek psychmotornya diserahkan kepada peserta didik untuk dikembangkan sendiri, melalui orang lain seperti orangtua.

C. Tujuan Pendidikan Secara Umum

Tujuan pendidikan secara umum terdapat dalam UU No. 2 Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan kerampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
D. Tujuan Pendidikan Secara Khusus
         
Tujuan khusus ini merupakan pengkhususan dari pada tujuan umum, karena untuk menuju kepada tujuan umum itu perlu adanya pengkhususan tujuan yang di sesuaikan dengan kondisi dan situasi tertentu, mialnya di sesuaikan dengan :
  1. Cita-cita pembangunan suatu masyarakat/bangsa
  2. Tugas suatu badan atau lembaga pendidikan
  3. Bakat dan kemampuan anak didik
  4. Kesanggupan-kesanggupan yang ada pada pendidik
  5. Tingkatan pendidikan, dan sebagainya.

LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN

Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak dari sejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk mnjemput masa depan.

Resume ini akan memusatkan paparan dalam berbagai landasan dan asas pendidikan, serta beberapa hal yang berkaitan dengan penerapannya. Landasan-landasan pendidikan tersebut adalah filosofis, kultural, psikologis, serta ilmiah dan teknologi. Sedangkan asas yang dikalia adalah asas Tut Wuri Handayani, belajar sepanjang hayat, kemandirian dalam belajar.

A. LANDASAN PENDIDIKAN
1. Landasan Filososfis
a. Pengertian Landasan Filosofis
Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita kenal sampai saat ini adalah Idealisme, Realisme, Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme dan Progresivisme dan Ekstensialisme.
1. ­Esensialisme
Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial.
2. Perenialisme
Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal.
3. Pragmatisme dan Progresifme
Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.
4. Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.
b. Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional
Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia.
2. Landasan Sosiolagis
a. ­Pengertian Landasan Sosiologis
Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat. Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi  pendidikan meliputi empat bidang:
1.     Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.
2.     hubunan kemanusiaan.
3.     Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.
4.     Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.
b. Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional
Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek.
 Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4 nonpenataran)
3. Landasan Kultural
a. Pengertian Landasan Kultural
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal.
Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai denga perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.
b. Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional
Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan.
4. Landasan Psikologis
a. Pengertian Landasan Psikologis
Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak. Pemahaman tetrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.
Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan.
b. Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.
5. Landasan Ilmiah dan Teknologis
a. Pengertian Landasan IPTEK
Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke  dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.
b. Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat
B. ASAS-ASAS POKOK PENDIDIKAN
Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara  asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar.
1. Asas Tut Wuri Handayani
Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso.
Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:
●      Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)
●      Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat)
 ●    Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)
2. Asas Belajar Sepanjang Hayat
Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.
Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
           Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.
3. Asas Kemandirian dalam Belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk ulur tangan bila diperlukan.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).

FUNGSI PENDIDIKAN

Fungsi pendidikan adalah sebagai alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Pada praksis manajemen pendidikan modern, salah satu dari lima fungsi pendidikan adalah fungsi teknis-ekonomis baik pada tataran individual hingga tataran global. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif. Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang maka tingkat pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan. Kondisi ini jelas terlihat dari penghasilan yang berbeda pada tiap tingkatan pendidikan yang berbeda. Produktivitas seseorang tersebut dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup.

FUNGSI DAN PERANAN LEMBAGA PENDIDIKAN

A. LEMBAGA PENDIDIKAN KELUARGA

Sebagai transmisi pertama dan utama dalam pendidikan, keluarga memiliki tugas utama dalam peletakan dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Dikatakan pertama karena keluarga adalah tempat dimana anak pertama kali mendapat pendidikan. Sedangkan dikatakan utama karena hampir semua pendidikan awal yang diterima anak adalah dalam keluarga. Karena itu, keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, yang bersifat informal dan kodrati. Lahirnya keluarga sebagai pendidikan sejak manusia itu ada. Ayah dan ibu sebagai pendidik, dan anak sebagai terdidik. Tugas keluarga adalah meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan anak berikutnya, agar anak dapat berkembang secara baik.

1. Fungsi dan Peranan Pendidikan Keluarga
a.  Pengalaman Pertama Masa Kanak-Kanak
Pengalaman ini merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan berikutnya, khususnya dalam perkembangan pribadinya. Kehidupan keluarga sangat penting, sebab pengalaman masa kanak-kanak akan memberi warna pada perkembangan selanjutnya.
b.  Menjamin Kehidupan Emosional Anak
Tiga  hal yang menjadi pokok dalam pembentukan emosional anak, adalah :
1.      Pemberian perhatian yang tinggi terhadap anak, misalnya dengan menuruti  
      kemauannya, mengontrol kelakuannya, dan memberikan rasa perhatian yang   
      lebih.
2.      Pencurahan rasa cinta dan kasih sayang, yaitu dengan berucap lemah lembut,  
      berbuat yang menyenangkan dan selalu berusaha menyelipkan nilai pendidikan
pada semua tingkah laku kita.
      3.   Memberikan contoh kebiasaan hidup yang bermanfaat bagi anak, yang diharapkan  
            akan menumbuhkan sikap kemandirian anak dalam melaksanakan aktifitasnya      
            sehari-hari.
c.  Menanamkan Dasar Pendidikan Moral
Seperti pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Anak akan selalu berusaha menirukan dan mencontoh perbuatan orang tuanya. Karenanya, orang tua harus mampu menjadi suri tauladan yang baik. Misalnya dengan dengan mengajarkan tutur kata dan perilaku yang baik bagi anak-anaknya.
d.  Memberikan Dasar Pendidikan Sosial
Keluarga sebagai komunitas terkecil dalam kehidupan sosial merupakan satu tempat awal bagi anak dalam mengenal nilai-nilai sosial. Di dalam keluarga, akan terjadi contoh kecil pendidikan sosial bagi anak. Orang tua sebagai teladan, sudah semestinya memberikan contoh yang baik bagi anak-anak. Misalnya memberikan pertolongan bagi anggota keluarga yang lain, menjaga kebersihan dan keindahan dalam lingkungan sekitar.
e.  Peletakkan Dasar-dasar Keagamaan
Masa kanak-kanak adalah masa paling baik dalam usaha menanamkan nilai dasar keagamaan. Kehidupan keluarga yang penuh dengan suasana keagamaan akan memberikan pengaruh besar kepada anak. Kebiasaan orang tua mengucapkan salam ketika akan masuk rumah merupakan contoh langkah bijaksana dalam upaya penanaman dasar religius anak.
2. Tanggung Jawab Keluarga
  1. Adanya motivasi atau dorongan cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dan anak. Hubungan yang tidak didasari cinta kasih akan menimbulkan beberapa sifat negatif bagi perkembangan anak. Begitu pula, tidak cukupnya kebutuhan anak akan kasih sayang akan membuat anak selalu merasa tertekan dan ragu dalam menjalani kehidupan selanjutnya.
  2. Pemberian motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya. Usia anak yang masih dini akan cukup membantu orang tua dalam penanaman sikap-sikap hidup. Rasa ingin tahu anak akan menghasilkan pengetahuan yang asli dan berakar bagi anak. Keluarga harus mampu menggunakan masa ini untuk betul-betul membentuk kepribadian awal anak sebagai anggota keluarga.
  3. Tanggung jawab sosial adalah bagian dari keluarga pada gilirannya akan menjadi tanggung jawab masyarakat, bangsa dan negara. Masyarakat yang sejahtera dibentuk dari keluarga-keluarga yang sejahtera pula. Keluarga merupakan awal perubahan dalam kehidupan bermasyarakat, karena itu keluarga mempunyai tanggung jawab membentuk masyarakat yang sejahtera.
  4. Memelihara dan membesarkan anaknya. Ikatan darah dan batin antara orang tua dan anak akan memberikan dorongan alami bagi orang tua untuk betul-betul mendidik anak menjadi apa yang mereka inginkan.
  5. Memberikan pendidikan dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan anak kelak, sehingga bila ia telah dewasa akan mampu mandiri.

PENGARUH KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK DI SEKOLAH

Beriyamin S. Bloom (1976) menyatakan bahwa lingkungan keluarga dan faktor-faktor luar sekolah yang telah secara luas berpengaruh terhadap siswa. Siswa-siswa hidup di kelas pada suatu sekolah relatif singkat, sebagian besar waktunya dipergunakan siswa untuk bertempat tinggal di rumah. Keluarga telah mengajarkan anak berbahasa, kemampuan untuk belajar dari orang dewasa dan beberapa kualitas dan kebutuhan berprestasi, kebiasaan bekerja dan perhatian terhadap tugas yang merupakan dasar terhadap pekerjaan di sekolah. Dari uraian ini dapat diketahui lebih lanjut bahwa kecakapan-kecakapan dan kebiasaan di rumah merupakan dasar bagi studi anak di sekolah.

Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat

Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan jalinan interaksi yang diupayakan oleh sekolah agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat untuk mendapatkan aspirasi, simpati dari masyarakat. Dan mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik antar sekolah dengan masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus bagi sekolah penjalinan hubungan tersebut adalah untuk mensuksekan program-program sekolah yang bersangkutan sehingga sekolah tersebut bisa tetap eksis.

Pengaruh Masyarakat Terhadap Kehidupan Sekolah

Masyarakat selalu tumbuh dan berkembang dan memiliki identitas atau karakteristik tersendiri sesuai dengan sosial budaya dan latar belakang sosial ekonominya, yang berangsur mempengaruhi sekolah ini.
Pengaruh dan peranan masyarakat terhadap sekolah, yaitu:
-          Sebagai arah dalam menentukan tujuan
-          Sebagai masukan dalam menentukan proses dalam belajar mengajar
-          Sebagai sumber belajar
-          Sebagai pemberi dana dan fasilitas lainnya
-          Sebagai laboratorium guna pengembangan dan penelitian sekolah.

LANDASAN DAN DASAR PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

Landasan Pendidikan

Landasan pendidikan adalah sesuatu yang Universal dan berlangsung terus tak terputus dari generasi ke generasi dimanapun di dunia ini. Pendidikan diselenggarakan berlandaskan filsafat hidup serta berlandaskan sosiokultural setiap masyarakat. Landasan filosofis sosiologis dan cultural akan membekali setiap tenaga kependidikan dengan wawasan dan pengetahuan yang tepat tentang bidang tugasnya. Selain itu terdapat dua landasan lain yang selalu erat kaitannya dalam upaya pendidikan yaitu psikologis dan landasan IPTEK. Landasan Pendidikan marupakan salah satu kajian yang dikembangkan dalam berkaitannya dengan dunia pendidikan.



Dasar Pendidikan Seumur Hidup
Pembahasan tentang  pendidikan seumur hidup ini akan diuraikan dalam dua bagian yaitu ditinjau dari dasar teoritis/ religios dan dasar yuriditisnya.
  1. 1. Dasar Teoritis/ Religious
Pendidikan seumur hidup ini pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik Amerika yang sangat terkenal yaitu John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend melalui bukunya : An Introduction to Life Long Education. Menurut John Dewey, pendidikan itu menyatu dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup sehingga pendidikan itu tidak pernah berakhir.
Pendidikan yang tidak terbatas ini juga telah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana dinyatakan dalam Hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi :
أطلـبُ الِعلم ِمنَ المَÙ‡ْدِ اِلىَ اللحْد
“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahad”
2.   Dasar Yuridis
Pendidikan seumur hidup di Indonesia mulai dimasyarakatkan melalui kebijakan negara yaitu melalui :
a.   Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978 tentang GBHN menetapkan prinsip-prinsip pembangungan nasional, antara lain :
~  pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Panjang)
~  Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).
b.   UU No. 2 Tahun 1989 Pasal 4 sebagai berikut :
“Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
c.   Di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989, penegasan tentang pendidikan seumur hidup, dikemukakan dalam Pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi : “penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan luar sekolah dalam hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga, sebagaimana dijelaskan pada ayat (4), yaitu : “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan”.

Tujuan pendidikan seumur hidup

a.       Untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya, yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin. Dengan demikian secara potensial keseluruhan potensi manusia diisi kebutuhannya supaya berembang secara wajar.
-          Potensi jasmani (fisiologis dan panca indera), menurut ilmu kesehatan memerlukan gizi dan berbagai vitamin termasuk udara yang bersih dan lingkungan yang sehat sebagai prakondisi hidupnya.
-          Potensi-potensi rohaniyah (psiologis dan hati nurani), juga membutuhkan “makanan”. Makanan rohaniah ini sehat terutama kesadaran cinta kasih, kesadaran kebutuhan/keagamaan, sastra dan filsafat. Hidup rohaniyah ini pangkal kebahagiaan manusia.
b.      Dengan mengingat proses pertumbuhandan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung selama manusia hidup. Tegarnya, tujuan pendidikan manusia seutuhnya ialah mengembangkan potensi-potensi kodrat manusia secara proporsional sesuai dengan martabat kepribadiannya.

Pelaksanaan pendidikan seumur hidup

Lembaga pelaksanaan dan wahana pendidikan seumur hidup meliputi:
a.       Dalam ligkungan rumah tangga (keluarga), sebagai unit masyarakat pertama dan utama.
b.      Dalam lingkungan sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal.
c.       Dalam lingkungan masyarakat sebagai lembaga dan lingkungan pendidikan non formal, sebagai wujud kehidupan yang wajar.

Implikasi pendidikan seumur hidup

1.      Implikasi pendidikan seumur hidup
Sebagai suatu kebijakan yang mendasar dalam memandang hakekat pendidikan manusia dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Pengertian implikasi ialah akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan. Jadi sesuatu yang yang merupakan tindak lanjut dari suatu kebijakan atau keputusan.
b.      Segi-segi implikasi dari konsepsi pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup.
-          Manusia seutuhnya sebagai subjek didik dan sarana didik
-          Proses berlangsungnya pendidikan: yakni waktunya seumur hidup manusia.
Karena lebih menekankan tanggung jawab pendidikan:
1.                  Oleh subjek didik sendiri (tidak terikat kepada pendidikan formal).
2.      Untuk mengembangkan diri sendiri sesuai dengan potensi-potensi serta minatnya.
3.      Berlangsung selama ia mampu mengembangkan dirinya.
c.       Isi yang dididikkan
Dengan mengingat potensi-potensi manusia seutuhnya itu (meliputi tujuh potensi), maka dapatlah dikembangkan wujud manusia seutuhnya itu dengan membina dan mengembangkan sikap hidup itu, yaitu;
-          Potensi jasmani dan panca indera. Dengan mengembangkan sikap hidup sehat, memelihara gizi makanan, olahraga yang teratur, istirahat yang cukup, lingkungan hidup yang bersih.
-          Potensi berfikir (rasional). Dngan mengembangkan kecerdasan, suka membaca, belajar ilmu pengetahuan yang sesuai dengan minat, mengembangkan daya piker yang kritis dan objektif.
-          Potensi perasaan dikembangkan
1.      Perasaan yang peka dan halus dalam segi moral dan kemanusiaan (etika), dengan menghayati tata nilai ketuhanan/keagamaan, kemanusiaan, sosial budaya, filsafat.
2.      Perasaan estetika dengan mengembangkan minat kesenian dengan berbagai seginya, sastra dan budaya.
-          Potensi karsa atau kemauan yang keras dengan mengembangkan sikap rajin belajar/bekerja, ulet, tabah menghadapi segala tantangan dan hemat hidup sederhana.
-          Potensi-potensi cipta dengan mengembangkan dasar kreasi da imajinasi baik dari segi konsepsi-konsepsi pengetahuan maupun seni budaya (sastra, puisi, lukisan, desain, dan model).
-          Potensi karya: konsepsi dan imajinasi tidak cukup diciptakan sebagai konsepsi semuanya diharapkan dilaksanakan secara operasional.
-          Potensi budi nurani: Kesadaran ketuhanan dan keagamaan, yakni kesadaran moral yang meningkatkan harkat dan martabat manusia menjadi manuia yang berbudi luhur.

Dengan mengembangkan ketujuh potensi itu dengan sikap hidup dan isi pendidikan yang secara mendasar disebutkan di muka, maka pendidikan manusia seutuhnya secara teoritis konseptual telah memadai. Untuk merealisasikannya merupakan tanggung jawab keluarga, sekolah, dan masyarakat, bahkan tanggug jawab individu manusia Indonesia (terutama yang sudah dewasa)

PENGERTIAN SISTEM PENDIDIKAN

Dalam pengertian umum, yang dimaksud dengan system adalah jumlah keseluruhan dari bagian-bagiannya yang saling bekerja sama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasarkan kebutuhan yang telah di tentukan. Setiap system pasti memiliki tujuan, dan semua kegiatan dari semua komponen atau bagian-bagian yang di arahkan dari tercapainya tujuan tersebut. Karena itu, proses pendidikan merupakan sebuah system yang di sebut sebagai system pendidikan.

 Pengertian pendidikan sebagai suatu sistem

Sistem adalah jumlah keseluruhan dari bagian-bagiannya yang saling bekerja sama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasarkan kebutuhan yang telah ditentukan. Setiap sistem pasti mempunyai tujuan, dan semua kegiatan dari semua komponen atau bagian-bagiannya diarahkan dari tercapainya tujuan tersebut.
Demikian pula dengan pendidikan sebagai sistem, pendidikan mempunyai tujuan dan semua kegiatan dari semua komponen atau bagian-bagiannya diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan.
1.      Pendidikan nasional sebagai suatu sistem
Maksud sistem pendidikan nasional adalah suatu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan aktivitas pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional. Sistem pendidikan nasional tersebut merupakan suatu suprasistem, yaitu suatu sistem yang besar dan kompleks, yang didalamnya tercakup beberapa bagian yang merupakan sistem-sistem.
2.      Dasar, tujuan, dan fungsi pendidikan
Dasar pendidikan bangsa Indonesia didasarkan pada ideologi bangsa. Pada pasal 1 ayat (2) tahun 1989, ditegaskan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia.
Dalam pasal 2 ayat UU Nomor 2 Tahun 1989 disebutkan bahwa: ”pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945”. Dengan begitu setiap satuan pendidikan yang diselenggarakan berdasarkan pancasila dan UUD 1945 yang dikategorikan sebagai dan masuk dalam kesatuan sistem pendidikan nasional.
Tujuan-tujuan pendidikan di Indonesia, yaitu:
a.       Rumusan menurut SK menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan No. 104/Bhg.O tanggal 1 maret 1946.
Tujuan pendidikan adalah untuk menanamkan jiwa patriotisme.
b.      Menurut UU No.4 tahun 1950 (UU pendidikan dan pengajaran).
Tujuan pendidikan dan pengajaran adalah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
c.       Menurut ketetapan MPRS Nomor II Tahun 1966.
Tujuan pendidikan adalah mendidik anak kearah terbentuknya manusia yang berjiwa pancasila dan bertanggung jawab atas terselenggaranya masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur material dan spiritual.
d.      Rumusan tujuan pendidikan menurut system pendidikan nasional pancasila dengan penetapan presiden No. 19 Tahun 1965, yang berbunyi sebagai berikut:
Tujuan pendidikan nasional kita, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, dari pendidikan prasekolah sampai pendidikan tinggi, supaya melahirkan warga negara sosialis Indonesia yang susila, yang bertanggung jawab atas terselenggaranya masyaraat sosialis Indonesia, adil dan makmur baik spiritual maupun material dan yang berjiwa pancasila.
e.       Rumusan tujuan pendidikan menurut ketetapan MPRS No. XXVII tahun 1966
Tujuan pendidikan ialah membentuk manusia pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945. Dalam ketetapan MPRS nomor XXVII tersebut, tujuan pendidikan nasional Indonesia tercantum dalam bab II pasal 3, pembentukan manusia pancasilais sejati merupakan sesuatu yang sangat diperlukan untuk mengubah mental masyarakat indoktrinasi Manipol USDEK, pemurnian semangat pancasila dianggap sebagai jaminan untuk tegaknya Orde Baru.
f.        Menurut Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1973 tentang GBHN.
Tujuan pendidikan nasional sebagai berikut: pembangunan dibidang pendidikan didasarkan atas falsafah pancasila dan diarahkan untuk membentu manusia-manusia pembangunan yang berpancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai udi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencitai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.
g.      Menurut TAP MPR Nomor IV/MPR/1978 tentang GBHN Bab IV D (pendidikan)
Pendidikan nasional berdasarkan pancasila bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
h.      Menurut ketetapan MPR nomor II/MPR/1983 tentang GBHN
Pendidikan nasional berdasarkan pancasila, bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, meerkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebagsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
i.        Menurut ketetapan MPR Nomor II/MPR/1988 tentang GBHN
Tujuan pendidikan nasional adalah untuk peningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil, serta sehat jasmani maupun rohani.

JENIS-JENIS PERMASALAHAN POKOK PENDIDIKAN DAN CARA PENANGGULANAGANNYA

PERMASALAHAN POKOK PENDIDIKAN

Pada dasarnya ada dua permasalahan pokok pendidikan yang kita hadapai saat ini, yaitu:
a.     Bagaimana semua warganegara dapat menikmati kesempatan pendidikan.
b.     Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang antap untuk dapat terjun ke dalam kancah kehidupan bermasyarakat.

Masalah pokok pendidikan yang menjadi kesepakatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya ada empat macam yaitu: masalah pemerataan pendidikan, masalah mutu pendidikan, masalah efisiensi pendidikan, maslah relevansi pendidikan.
1.     Masalah Pemerataan Pendidikan
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana  sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warganegara untuk memperoleh pendidikan.
Masalah ini dapat dipecahkan dengan dua cara yaitu dengan cara konvensional dan cara inovatif. Cara konvensional misalnya pembangunan gedung sekolah dan pergantian jam belajar. Cara inovatif misalnya sistem guru kunjung dan Sekolah Terbuka.
2.     Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu pendidikan.
Pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia, dan manajemen pendidikan.
3.     Masalah Efisiensi Pendidikan
Beberapa masalah dalam kaitannya dengan efisiensi pendidikan antara lain:
a.     bagaimana memfungsikan tenaga pendidikan.
b.     Bagaimana sarana dan prasarana pendidikan digunakan
c.     Bagaimana pendidikan diselenggarakan
d.     Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga
4.     Masalah Relevansi Pendidikan
Sebenarnya kriteria relevansi cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambatan tentang kerjaan yang ada antara lain sebagai berikut.
a.     status lembaga pendidikan yang bermacam-macam
b.     sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran yang siap pakai. Yang ada ialah siap kembang.
c.     Tidak tersedianya pete kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratannya yang digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGNYA PERMASALAHAN PENDIDIKAN

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan antara lain: perkembangan iptek dan seni, laju pertumbuhan penduduk, aspirasi masyarakat dan keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan.
1.     Perkembangan IPTEK dan Seni
Sejalan dengan berkembangnya arus globalisasi di negara kita, terutama dengan pesatnya peningkatan teknologi komunikasi, membuat segala sesuatu harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Implikasinya di dalm masyarakat sangat tersa. Oleh karena itu pendidikan harsu senantiasa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Seni merupakan kebutuhan hidup manusia. Pengembangan  kualitas seni secara terprogram menuntut tersedianya sarana pendidikan tersendiri disamping program-program lain dalam sistem pendidikan.
2.     Laju Pertumbuhan Penduduk
Masalah kependudukan dan pendidikan bersumber pada 2 hal yaitu:pertambahan penduduk dan penyebaran penduduk.
3.     Aspirasi Masyarakat
Belakangan ini aspirasi masyarakat semakin meningkat sejalan dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap ‘reformasi’. Aspirasi tersebut menyangkut kesempatan pendidikan, kelayakan pendidikan dan jaminan terhadap taraf hidup setelah mereka menjalani proses pendidikan.
4.     Keterbelakangn Budaya dan Sarana Kehidupan
Keterbelakangan budaya disebabkan beberapa hal misalnya letak geografis yang terpencil dan sulit dijangkau, penolakan masyarakat terhadap unsur budaya baru karena dikhawatirkan akan mengikis kebudayaan lama, dan ketidakmampuan ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.

Permasalahan Aktual dan Mutakhir dalam Pendidikan Indonesia dan Upaya Penanggulangannya

1.     Permasalahan Aktual Pendidikan di Indonesia
Permasalahan aktual pendidikan di Indonesia sangat kompleks dan semakin berkembang sejalan dengan perkembangan zaman dan kemapanan sumber daya manusia. Masalah masalah tersebut antara lain:
a.     Masalah Keutuhan Pencapaian sasaran
b.     Masalah Kurikulum
c.     Masalah Peranan Guru
d.     Masalah Pendidikan Dasar 9 Tahun
2.     Upaya Penanggulangan
Beberapa upaya dilakukan untuk menanggulangi masalah masalah aktual tersebut, diantaranya:
a.     Pendidikan efektif perlu ditingkatkan secara terprogram.
b.     Pelaksanaan kegaitan kurikuler dan ekstrakurikuler dilakukan dengan penuh kesungguhan dan diperhitungkan dalam penentuan nilai akhir ataupun kelulusan
c.     Melakukan penyusunan yang mantap terhadap potensi siswa melalui keragaman jenis program studi.
d.     Memberi perhatian terhadap tenaga kependidikan(prajabatan dan jabatan)

PENGERTIAN KOPETENSI DALAM PENDIDIKAN

Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan berkehendak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.

Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Berbasis Kopetensi

Diversifikasi kurikulum
Kurikulum berbasis kompetensi dapat didiversifikasikan atau diperluas, diperdalam, dan disesuaikan dengan keberagaman kondisi dan kebutuhan, baik yang menyangkut kemampuan atau potensi siswa maupun yang menyangkut potensi lingkungan.
a.     Penyusunan silabus
Penyusunan silabus mengacu kepada kurikulum berbasis kompetensi dan perangkat komponen-komponennya yang disusun oleh pusat kurikulum, badan penelitian dan pengembangan, departemen pendidikan nasional.

b.             Kegiatan kurikuler dan pendekatan pembelajaran
Kegiatan kurikuler efektif perminggu dimungkinkn untuk dilaksanakan dalam 5 hari atau 6 hari kerja sesuai dengan kebutuhan sekolah setelah mendapatkan persetujuan dri dinas pendidikan provinsi.
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan berpusat pada siswa, yaitu pendekatan yang aktif, kreatif, efektif, menyenagkan dan mencerahkan.
c.              Kegiatan ekstrakulikuler
d.             Tenaga guru
e.              Sumber dan sarana belajar
f.              Bahasa pengantar
g.             Nilai-nilai pancasila
h.             Pendidikan bbudi pekerti
i.               Akselerasi belajar
j.               Remidial dan pengayaan
k.             Bimbingan dan konseling pendidikan

Penilaian Hasil Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kopetensi

a.      Penilaian kelas
b.      Tes kemampuan dasar
c.       Penilaian terakhir satuan pendidikan dan sertifikasi.
d.      Benchmarking, merupakan suatu penilaian terhadap proses dan hasil untuk menuju ke suatu keunggulan yang memuaskan.
e.       Penilaian program, dilakukan secara berkala dan terus menerus oleh departemen pendidikan nasional dan dinas pendidikan.

KONSEP DASAR PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

Konsep biaya pendidikan sifatnya lebih kompleks dari keuntungan, karena komponen biaya terdiri dari lembaga jenis dan sifatnya. Biaya pendidikan bukan hanya berbentuk uang dan rupiah, tetapi juga dalam bentuk biaya kesempatan (opportunity cost). Biaya kesempatan ini sering disebut Income Forgone yaitu potensi pendapatan bagi seorang siswa selama ia mengikuti pelajaran atau mengikuti study. Sebagai contoh, seorang lulusan SMP yang tidak diterima untuk melanjutkan pendidikan SMU, jika ia bekerja tentu memproleh penghasilan dan jika ia melanjutkan besarnya pendapatan (upah,gaji) selama tiga tahun belajar di SMU harus diperhitungkan. Oleh karena itu, biaya pendidikan akan terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung atau biaya kesempatan.
Biaya pendidikan merupakan dasar empiris untuk memberikan gambaran karakteristik keuangan sekolah. Analisis efesiensi keuangan sekolah dalam pemanfataan sumber-sumber keuangan sekolah dan hasil (output) sekolah dapat dilakukan dengan cara menganalisa biaya satuan (unit cost) per siswa. Biaya satuan persiswa adalah biaya rata-rata persiswa yang dihitung dari total pengeluaran sekolah dibagi seluruh siswa yang ada di sekolah dalam kurun waktu tertentu. Dengan mengetahui besarnya biaya satuan persiswa menurut jenjang dan jenis pendidikan berguna untuk menilai berbagai alternatif kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Didalam menentukan biaya satuan terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan makro dan mikro. Pendekatan makro mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber dana kemudian dibagi jumlah murid. Pendekatan mikro mendasarkan perhitungan biaya berdasarkan alokasi pengeluaran perkomponen pendidikan yang digunakan oleh murid.

Sistem Pembiayaan Dalam Pendidikan Di Indonesia

Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 2 tahun 1989, BAB VII tentang sumber daya pendidikan pada pasal 36 dinyatakan sebagi berikut:  
a.       Biaya penyelenggaraan kegiatan pendidikan di stuan pendidikan yang di selenggarakan oleh pemerintah menjadi tanggung jawab pemerintah.
b.      Biaya penyelenggaraan kegiatan pendidikan di satuan pendidikan yang di selenggarakan oleh mesyarakat menjadi tanggung jawab perorangan yang menyelenggarakan satuan pendidikan.
c.       Pemerintah dapat memberi kepada satuan pendidikan yang di selenggarakan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Perbandingan Biaya Pendidikan dan Peluang Kerja

Biaya pendidikan berbeda-beda menurut lembaga pendidikan tinggi yang di masuki. Biaya pendaftaran tahunan untuk mempersiapkan ijazah nasional ditetapkan oleh negara, yang menanggung sebagian besar biaya nyata yang di keluarkan. 

LATAR BELAKANG PERLUNYA PENDIDIKAN YANG DEMOKRATIS

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, demokrasi yaitu: “gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga Negara.
Demokrasi disamping merupakan pelaksanaan dan prinsip kesamaan sosial dan tidak adanya perbedaan yang mencolok, juga menjadi suatu cara hidup, suatu way of life yang menekankan nilai individu dan intelegensi serta manusia percaya bahwa dalam berbuat bersama manusia menunjukkan adanya hubungan sosial yang mencerminkan adanya saling menghormati, kerja sama, toleransi dan fair play.

Prinsip-prinsip demokrasi pendidikan

Dalam setiap pelaksanaan pendidikan selalu terkait dengan masalah-masalah yaitu:

1. Hak asasi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan
2. Kesimpulan yang sama bagi warga negara untuk memperoleh pendidikan
3. Hak dan kesempatan atas dasar kemampuan mereka

Dari prinsip-prinsip tadi dapat dipahami, bahwa ide dan nilai demokrasi pendidikan itu sangat banyak dipengaruhi oleh akal pikiran, sifat jenis masyarakat dimana mereka berada. Jika hal-hal yang disebutkan ini dikaitkan dengan prinsip-prinsip demokrasi pendidikan yang terdahulu, maka ada beberapa yang harus dipahami antara lain.

1. Keadilan dalam pemerintahan adalah kesempatan belajar bagi semua warga negara
2. Dalam pembentukan karakter bangsa sebagai bangsa yang baik
3. Memiliki satu ikatan yang kuat dengan cita-cita nasional
4. Dalam bidang pendidikan cita-cita demokrasi yang akan dikembangkan dengan tidak meningglakan cita-cita dan kondisi masyarakat yang ada melalui proses hartikel dan horizontal.

Kepemimpinan kependidikan yang demokratis

Tujuan dan tanggung jawab kepemimpinan pendidikan demokrasi ialah untuk memperbaiki pengajaran di sekolah. Inti peningkatan pengajaran adalah memperbesar efektivitas guru dalam kelas. Praktek kepemimpinan yang demokratis ialah membantu guru-guru untuk memandang diri secara positif, memungkinkan untuk menerima mereka sendiri dan orang lain serta memberikan kesempatan yang luas untuk mengidentifikasikan diri dengan teman-teman sejawatnya.

Pola pembelajaran yang demokratis

Perwujudan pola pembelajaran dan pendidikan demokratis dapat dimulai dengan mengubah salah satu komponen penting pendidikan, yakni evaluasi.
Pandangan pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Prof.Dr Ana Suhaenah, ketika di hubungi di Jakarta, sebelumnya di wartakan pendidikan dan pembelajaran selama ini di nilai kurang demokratis. Peserta didik tidak di beri ruang untuk berimajinasi dan berekreasi. Peserta didik cenderung hanya menjadi objek dan di posisikan tidak tahu apa-apa sehingga harus di jejali sesuai kemauan guru.

PENDIDIKAN SEBAGAI MODAL DASAR PEMBANGUNAN

Pendidikan menekankan aktualisasi modal kemandirian manusia guna memanusiakan dan membudaya bagi diri dan lingkungan. Sedangkan pembangunan menekankan sumber-sumber yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia guna terpenuhi hajat manusia itu sendiri. Secara singkat dapat di katakan bahwa pendidikan adalah ikhtiyar ke dalam diri manusia dan pembangunan merupakan ikhtiyar keluar guna mencapai hidup yang baik dari manusia itu sendiri.
Dengan demikian, pada analisa terakhirnya pendidikan dan pembangunan bertumpu pada hajat hidup manusia yang senantiasa ingin terangkat harkat dan martabatnya. 
Sumbangan Pendidikan Dalam Pembangunan
Sumbangan pendidikan terhadap pembangunan dapat dilihat dari berbagai segi, diantaranya, segi sasaran, lingkungan, jenjang pendidikan, dan pembidangan kerja..
1.     Segi Sasaran Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar yang ditujukan kepada peserta didik agar menjadi manusia yang berkepribadian kuat dan utuh serta bermoral tinggi. Jadi tujuan citra manusia yang dapat menjadi sumber daya pembangunan yang manusiawi.
2.     Segi Lingkungan Pendidikan

Klasifikasi ini menunjukkan peran pendidikan dalam berbagai lingkungan atau sistem. Lingkungan keluarga(pendidikan informal), lingkungan sekolah (pendidikan formal), lingkungan masyarakat (pendidikan nonformal), ataupun dalam sistem pendidikan prajabatan dan dalam jabatan.

3.     Segi Jenjang Pendidikan

Jenjang pendidikan meliputi pendidikan dasar (basic education), pndidikan lanjutan, menengah, dan pendidikan tinggi.
4.     Segi Pembidangan Kerja atau Sektor Kehidupan

Pembidangan kerja menurut sektor kehidupan meliputi bidang ekonomi, hukum, sosial politik, keuangan, perhubungan, komunikasi, pertanian, pertambangan, pertahanan, dan l;ain-lain.

Pendidikan yang relevan dengan pembangunan

Pendidikan yang relevan dengan pembangunan, berarti mempunyai keterhubungan yang tinggi antara bekal pendidikan yang di berikan kepada seseorang atau sesuatu masyarakat atau bangsa. Masalah-masalah dan hajat hidup suatu masyarakat atau bangsa berbeda-beda pada:
  1. Periode yang satu dengan periode lainnya
  2. Kelompok masyarakat di tempat yang satu dengan tempat lainnya, dan seseorang yang satu dengan yang lainnya.
Ini berarti bahwa pendidikan yang relevan dengan pembangunan di tuntut untuk mengabdi pada kepentingan nasional, regional, lokal sampai pada kelompok kecil berupa keluarga dan juga pada kepentingan seseorang yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu.